BOGOR, Terasjabar - Di tengah derasnya arus informasi digital, batas antara profesi wartawan dan sosok yang sekadar mengaku-ngaku sebagai pewarta kian kabur. Istilah "wartawang" yang kerap beredar sebagai lelucon di kalangan jurnalis sebenarnya menyimpan kritik tajam terhadap praktik-praktik yang mencederai marwah pers.

Wartawan dalam pengertian yang sesungguhnya, bukan sekedar orang yang memegang kartu pers atau membawa kamera. Ia terikat pada disiplin verifikasi fakta, keberimbangan, serta kepatuhan pada Kode Etik Jurnalistik. Setiap informasi yang disajikan bukan hanya soal cepat, tetapi juga benar. Ada proses konfirmasi, ada tanggung jawab publik, dan ada konsekuensi hukum.

Sebaliknya, "wartawang" hadir sebagai antitesis. Ia mungkin datang dengan atribut pers, tetapi bekerja tanpa kaidah. Informasi disusun tanpa verifikasi, narasumber dipilih tanpa konfirmasi, bahkan tak jarang berita dijadikan alat tekanan. Dalam praktik ekstrem, profesi ini disalahgunakan untuk kepentingan pribadi mulai dari mencari keuntungan hingga intimidasi terselubung.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan istilah, melainkan ancaman serius bagi kepercayaan publik. Ketika masyarakat sulit membedakan mana wartawan yang bekerja profesional dan mana yang sekadar "bertopeng pers", maka yang runtuh bukan hanya reputasi individu, tetapi kredibilitas media secara keseluruhan.

Di sinilah pentingnya literasi publik. Pembaca perlu lebih kritis memeriksa sumber berita, melihat rekam jejak media, dan memahami bahwa tidak semua yang mengatasnamakan pers bekerja sesuai standar jurnalistik.

Di sisi lain, perusahaan media dan organisasi profesi juga tak bisa lepas tangan. Penguatan sertifikasi, penegakan kode etik, hingga tindakan tegas terhadap pelanggaran harus menjadi prioritas.

Pers, dalam sejarahnya, adalah pilar demokrasi. Ia berfungsi mengawasi kekuasaan, menyuarakan yang tak terdengar, dan menjaga akal sehat publik. Namun fungsi itu hanya bisa berjalan jika dijalankan oleh wartawan bukan wartawang.

Karena pada akhirnya, perbedaan keduanya sederhana namun mendasar. Yang satu bekerja untuk publik, yang lain bekerja untuk kepentingan sendiri.***