JAKARTA, Terasjabar - Statemen Presiden Prabowo Subianto yang terkesan mengabaikan terpuruknya nilai tukar rupiah atas dollar, mulai membuat sejumlah perusahaan plat merah, khususnya yang bernaung di bawah Danantara kewalahan. Bahkan PT PLN (Persero) sebagai perusahaan yang memonopoli bisnis energi kelistrikan dalam negeri, termasuk BUMN paling terpuruk.
Kabar ini agak kontradiktif karena di saat PLN menebar framing bahwa Laporan Keuangan tahun 2025 perusahaan tersebut untung Rp7 triliun, dalam dua hari terakhir justru para pegawai keresahan, menyusul beredar luasnya narasi berantai terkait kondisi PLN saat ini
Diduga, pesan yang diedarkan jajaran Direksi perusahaan yang dikendalikan Darmawan Prasodjo selaku Direktur Utama (Dirut) yang sudah menjabat hampir 6 tahun tersebut, bocor ke publik, meski dikabarkan awalnya hanya untuk kalangan internal.
Berikut isi pesan tersebut:
Berdasarkan data internal yang dipaparkan dalam dokumen agenda Marketing and Sales War Room tanggal 18 Mei 2026 tersebut, berikut adalah penarikan data kinerja keuangan tahun 2024 (baik dari data historis/pembanding yang tertera di slide, maupun konfirmasi laporan AR/SR PLN) beserta analisa mendalam mengenai tingkat keparahan kondisi operasional dan pemenuhan hak pegawai (gaji).
## 1. Data Pembanding Tahun 2024 pada Dokumen
Di dalam dokumen urgensi keuangan 2026–2027 ini, data realisasi tahun 2024 digunakan sebagai basis pembanding atau tolok ukur (baseline) untuk menunjukkan penurunan tajam di tahun-tahun berikutnya:
* **EBITDA 2024:** Rp108,7 Triliun (Poin 11).
* **Catatan Kinerja AR/SR 2024:** Pendapatan PLN di tahun 2024 sebenarnya tumbuh positif mencapai Rp545,4 triliun (membuat PLN masuk Fortune Global 500). Namun, lonjakan beban di tahun 2026–2027 membuat pencapaian 2024 tersebut tidak lagi mampu menopang likuiditas saat ini.


