JAKARTA, TerasJabar - Dalam kondisi bencana atau situasi krisis adalah momen untuk melihat kualitas seorang pemimpin, termasuk kualitas Direktur Utama PLN. Menurut Doris Kearns Goodwin, _“In times of crisis, people don’t look to systems, they look to leaders, they look for clarity, empathy, and resolve.”_ Meski petugas PLN hingga kini terus berjibaku untuk memulihkan sistem kelistrikan khususnya di Aceh pasca bencana banjir, namun hingga kini perusahaan setrum itu belum bisa memberi garansi kapan seluruh sistem kelistrikan pulih 100%. Artinya ada krisis kepemimpinan di tubuh PLN yang patut menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto.

Padahal, untuk mengurangi penderitaan rakyat di Tanah Rencong, Dirut PLN seharusnya bisa memberikan solusi strategis sebagaimana langkah konkrit dalam mengatasi kebutuhan listrik dalam waktu singkat.

Demikian diungkapkan Ketua Umum Ikatan Wartawan Online (IWO) sekaligus Koordinator Nasional Relawan Listrik Untuk Negeri (Re-LUN) Teuku Yudhistira. Menurutnya, terkait listrik Aceh, Darmawan Prasodjo mestinya mampu berpikir lebih luas untuk mencarikan solusi agar Aceh bisa keluar dari Blackout yang berkepanjangan ini.

"PLN ini kan punya track record jelek di Aceh soal sistem kelistrikannya. Terbukti sebelum ada bencana sudah dua kali terjadi blackout di provinsi paling Barat Indonesia ini," ungkap Teuku Yudhistira di Jakarta, Rabu (17/12/2025).

Artinya, kata dia, harusnya Dirut PLN sebagai leader, mampu memikirkan hal ini dan bisa memberikan solusi agar masalah ini tidak terus berlarut-larut, di samping proses pemulihan listrik dengan memperbaiki seluruh jaringan 150 kv hingga 20 kv pasca bencana tetap dilakukan.

"Aneh menurut saya kalau sekelas Dirut tidak memiliki pemikiran dalam menuntaskan masalah ini. Padahal, salah satu solusi paling praktis, cepat dan sangat memungkinkan dilakukan untuk mengatasi kegelapan adalah dengan menggunakan solar panel, listrik tenaga surya dengan kelengkapan baterainya sembari menunggu perbaikan jaringan listrik PLN tuntas seluruhnya," sebutnya.

Dikatakannya, dalam situasi darurat, infrastruktur kelistrikan sering kali lumpuh akibat robohnya tiang, putusnya kabel, atau terendam banjir. Di sisi lain, distribusi bahan bakar untuk genset kerap terkendala kondisi medan dan akses yang terbatas. 

"Di tengah kondisi tersebut, sistem pembangkit listrik tenaga surya dengan baterai dapat langsung dimanfaatkan karena bekerja secara mandiri tanpa bergantung pada jaringan maupun pasokan BBM," urainya.

Dan untuk kebutuhan solar panel itu, lanjut Yudhis, PLN bisa menggunakan anggaran emergency atau anggaran TJSL atas CSR bisa dipakai untuk pengadaannya khususnya di titik-titik vital seperti Rumah Sakit SPBU, PDAM, dan tenda pengungsian.